dalam sebuah temu, aku selalu menjelma seperti batu, mematung, lalu diam seribu bahasa.
kemarin, kamu tak sedikit pun memberikan isyarat, bahwa kita pernah bertegur sapa, lalu sama-sama merangkai kata. saat itu, waktu benar-benar terasa biasa saja, bumi juga berotasi mengelilingi porosnya, sama seperti kamu yang kemudian pergi tak berjejak, lalu aku kembali menjalankan rutinitasku seperti hari-hari kemarin, tidak ada yang berubah, sama sekali tidak ada..
kamu dengan dirimu dan aku dengan diriku, tidak ada yang perlu disesalkan jika pada waktu yang singkat itu ternyata kita tak banyak saling bicara, dalam waktu yang pendek itu bahkan kita tak saling bertanya nama, dalam waktu yang kilat itu ternyata kita juga tak sempat melempar tawa. saat itu, benar-benar saat itu tidak ada yang bisa kita lakukan, sungguh, karena kedatanganmu bukan untukku, lagi pula aku juga tak menunggu hadirmu, waktu itu, bahkan waktu itu adalah kali pertama mata kita beradu, pertama dan tak pernah terfikir untuk kembali bertemu.
dalam selang waktu yang cukup lama sejak pertemuan perdana itu, kamu dan bayangmu benar-benar tak pernah terlintas lagi, kamu seperti kapas yang terbawa angin, entah kemana, dan aku tidak peduli untuk itu, selama itu pula, penjelajahanku di mulai, namun hati tak pernah berpijak kepada apa dan siapa pun.
dan, belakangan ini aku tersadar bahwa ternyata kamu bukan kapas yang terbawa angin, lebih dari itu kamu adalah spora yang diterbangkan angin itu, hilangmu tak pernah ku tahu, tapi tiba-tiba kamu muncul, tak tanggung-tanggung, dihadapanku, hingga tatap kedua kemudian berhasil mematungkanku. tahukah kamu? di pertemuan kedua ini aku masih berusaha mengingat siapakah kamu, dimana aku pernah bertemu, lalu mengapa bisa ada kamu. tahukah kamu? semuanya adalah bukti bahwa hilangmu yang tak berjejak saat itu memang tak memalingkan duniaku sedikit pun.
kali ini aku mulai terbiasa, saat tak sengaja mata kita beradu, lalu aku dan kamu berusaha berpaling dan seolah tak ada yang terjadi, entahlah ku kira hanya perasaanku saja. intinya, tiba-tiba kamu datang lagi, tawa yang tak sengaja ku buat saat itu kemudian saat ini seperti diaminkan, dan aku mulai menyimpan ketakutan..
kamu tahu? takdir itu selalu tepat, kamu tidak bisa menyalahkan takdir yang telah Tuhan berikan untukmu. namun, ternyata hati tak berani menerka, takut terluka, dan berakhir air mata. aku takut Tuhan hanya sedang menguji hati, karena Dia tahu bagian mana yang paling mudah tersentuh saat sedang terpuruk jatuh. akankah Tuhan se-iseng itu?
aku tak mau terlalu berharap, apalagi menyebut namamu dalam setiap doa, takut bila tak sesuai dengan apa yang ku semogakan, apalagi jika benar Tuhan hanya sedang membuat hatiku terguncang. aku tak mau jatuh tersungkur lalu mengutuk diri seakan Tuhan mempermainkan hidupku.. Tidak, tidak seperti itu, hingga pada suatu waktu aku sengaja mencuri senyummu, mencari waktu untuk memataimu dari balik jendela luar, sengaja meninggalkan penaku, agar aku bisa kembali dan kembali lagi melihat punggungmu.
jika memang Tuhan hanya sedang iseng, ku mohon Tuhan.. hentikan..
No comments:
Post a Comment