Friday, 30 December 2016

Berhenti di Dua Puluh

Ada ketakutan yang tidak bisa secara gamblang aku ceritakan, aku rasa karena ini menyangkut hati. Bagian yang paling remuk ketika sedang terpuruk. Potongan yang paling tersentuh ketika tumbang terjatuh.

Aku berhenti jatuh cinta di usia dua puluh, karena aku takut hanya akan menyemarkan air mata dengan tetesan peluh.
Jangan jatuh cinta di usia dua puluh, iya, aku menisbatkan diriku untuk itu, karena aku tidak mau tolol tersebab terpental konyol.

Di usia dua puluh, aku hanya takut terjatuh, mendapati hatinya telah berlabuh.
Sudah banyak ku temui, orang-orang yang tumbang karena jatuh cinta di usia dua puluhan, tak sedikit dari mereka yang akhirnya merelakan, kemudian belajar mengikhlaskan. Aoalagi kalau bukan karena di tinggal 'nikah' ehem.

Aku takut jatuh cinta di usia dua puluhan, karena luka yang terlanjur terbuka akan sulit untuk kau rapatkan.
Aku hanya tidak tahu skenario Tuhan akan membawaku kemana, karena itu, aku tak mau jatuh cinta, ya, di usia dua puluhan.
Aku tidak pandai menerka sebuah reka, maka dari itu aku tak ingin menumbuhkan cibta.

Aku takut tumbang karena terlalu berangan.
Aku takut menyisakan perih ketika saat kau perlahan pergi.

Bukan, bukan kau yang salah, hanya aku yang jatuh cinta, di waktu yang sudah tidak tepat lagi.
Maka dari itu aku berbicara kepada hatiku, jangan jatuh cinta di usia dua puluhan..

No comments:

Post a Comment