Thursday, 28 May 2015

Batas yang Kau Tembus

Manusia itu aneh, membentengi diri, lalu berlari menembus batas, lupa pada ikrar.
Lupa dengan cara yg tragis, lupa dengan cara yg sangat sederhana, tidak disengaja.
Tidak disengaja yg disengajakan. Seolah-olah diri tidak tahu lalu lanjutkan saja.

Apalagi, ia melihat hanya dari satu sisi. Dengar, rasa, iba, terima, putuskan. Tidak bisa dikatakan nijak untuk seseorang yg kearifannya sangat populer. Hasilnya adalah, justifikasi dan intimidasi terhadap yg lain. Ada yang lain yang hatinya juga perlu diselamatkan. Apalah daya, kuatnya tak sebanding dengan hati. Hingga berbekal satu tarikan nafas, kabarnya hati itu hancur.

Seperti menjadi orang lain, atau justru menjadi orang lain malah ketika berhadapan dengan hati? Lalu, konsep menyebalkan itu entah dikemanakan olehnya. Batasnya tak juga dapat ia temukan, lalu berlari, melesat, dan sangat cepat. Lebih cepat dari kecepatan cahaya sekalipun.

Heran, hanya bisa bersiri lalu diam. Adakah padaku yang salah? Atau aku yg terlalu berbaik sangka? Hingga kemungkinan terpahit pun tak sempat aku persiapkan. Lalu, bagaimana bila citranya hancur dan tergerus? Olehnya seorang yg membuat hati yg lain tidak berhasil diselamatkan. 

Apalagi? Bahkan setelahmu, dan setelah ia tidak membersamai mereka yg masih dan tetus bergerak, ia seakan-akan lepas dan tak terbang tak terelakan.

No comments:

Post a Comment