Monday, 19 August 2013

untuk beratus-ratus hari yang lalu

detak jantung yang membuatku hidup terus menerka, aku meronta sejadinya yang aku mampu. 
mencoba lari dan bersembunyi dari kejaran kenangan yang belum lunas. 
aku masih mencicil semuanya ketika kau bilang itu adalah akhir dari rasa yang pernah ada. 
aku mencoba mengerti tentang cinta, begitu pula dengan rasa sakit sebagai pelengkapnya.
aku mencoba diam untuk beberapa waktu, meyakinkan atau belajar menjadi munafik bahwa aku telah menyelesaikan kenangan yang belum sempat terselesaikan.
namun, langkah kaki itu terus mengintai, membuntutiku seolah aku seorang buronan. hentikan ! lalu aku harus bagaimana ? dan pada akhirnya kenangan buntung itu memergoki aku yang sedang patah arah, jangan paksa aku untuk melunasi semuanya, keadaan tak lagi berpihak untuk manusia bodoh seperti (aku).

tentang "once upon a time" itu layaknya sebuah dongeng yang anonim, tentang beratus-ratus hari yang lalu, tentang kisah yang ujungnya berakhir dengan duka, tentang kematian seonggok hati manusia. 
dan, sekali lagi.. untuk kepercayaan yang tak terjaga. untuk masalah menjaga hati dan sebuah ikrar yang dilambangkan oleh alunan lagu indah itu nyatanya kini telah musnah, lagu yang selalu kau pinta untuk ku putar ketika aku masih menjadi sebuah suara tanpa visualisasi

.terkadang, aku terpaksa untuk lupa, untuk berkata bahwa aku memang telah lupa dan telah melewatkanmu, hati manusia siapa yang tahu, sebaliknya rindu itu semakin menggebu.
sesekali aku mengulang memutar memori itu, dalam sepi dan kesendirian, ahh.. berkabung bila akhirnya telah datang pujangga baru.
 iya, dia datang, dia yang telah mematahkan kepercayaanku dan sekarang berlabuh dihatimu.
 entahlaah, biarkan aku dalam dingin, dalam kebekuan yang meraja, bila saja secerca cahaya itu tak jua dapat membuatku mencair, biarkanlah..
takdirnya memang indah, seperti apa yang ia citakan, lihat aku dalam kejauhan dan rasakan pahit itu semakin mematikanku. aku tetap diam dalam ketenanganku, tenang namun begejolak, aku hancur untuk beratus-ratus hari yang telah kita tanggalkan.

 dan, teruntuk kenangan yang belum sempat terlunaskan, aku tak dapat menjanjikan apapun, secuil pun aku tak bisa, menghadapi kenyataan yang jauh dari skenario yang sempat kita buat dalam hari-hari bahagia itu nyatanya telah terbakar.
semakin meredup dan akhirnya padam, untuk kenangan beratus-ratus yang lalu, maafkanlah aku, ku biarkan kau cacat dengan setengah dariku karena kebodohanku, ku biarkan kau buntung karena ketidak mampuanku, biarkan aku untuk tidak melunasimu, biarlah dia yang menjadi tiri untukmu, dan pinta ia untuk melunasimu, meski memang berbeda cita. 

namun ku rasa, indikasi kenangannya lebih tinggi..
ku biarkan kau pincang, untuk beratus-ratus hari yang lalu. maafkanlah, ku biarkan kau tertatih untuk mencariku melunasimu namun aku tak mampu. 
biarlah menjadi seutas kenangan yang abadi, walau tak sempurna, walau pincang dan tertatih, bila berkehendak lain, bila saja datang untukku melunasimu, aku akan mencarimu, mencari cara untuk mengenang kenangan pincang yang kian tertatih.untuk beratus-ratus hari yang lalu, maafkan aku..

No comments:

Post a Comment