Sunday, 4 January 2015

Seperti Butiran Debu

Assalammu'alaykum..
beberapa hari yang lalu, aku merasa takjub, sekaligus bersyukur atas karunia yang telah Alloh berikan..
aku merasa malu dan kecil, semoga aku, kamu, kita semua tidak termasuk dalam golongan orang-orang sombong yang kufur nikmat.

----------------------------------------------------------------------
Kala itu hari Senin, 22 Desember 2014. Aku dan beberapa temanku pergi menyambangi kota kecil yang sedang menjadi buah bibir saat itu, Banjarnegara.
langit hitam keabuan seakan siap melahap kami, hingga akhirnya di tengah perjalanan kami terpaksa mengenakan jas hujan untuk menjaga make up kami agar tidak luntur hehehe tentu saja tidak! agar kami tidak kehujanan.

Alloh adalah pencipta yang sempurna, hingga logika tak mampu lagi berfikir. bagaimana bisa gunung-gunung itu muncul menjulan tinggi? seakan mencakar langit.. bagaimana bisa langit tanpa tiang? kenapa ia tak runtuh?

jujur saja, aku ahli mengendarai sepeda motor, salip kanan, salip kiri, kebut, rem, gaaass. ah aku sudah paham! maklum, aku ini gadis pantura. hari-hariku semasa muda dulu ku habiskan di jalanan keras itu. hanya saja kali ini sedikit berbeda, jalur selatan yang kami lalui sangat berbeda dengan pantura. pantura cenderung luas, lurus, berlubang, banyak truk besar, panas, dan polusi hingga aku jengah dan merasa stres berkendara di pantura terkadang. sedangkan jalur selatan yang kami lalui bisa dikatakan sempit, berkelok, naik turun, berkabut, dan dingin, sebenarnya aku sudah beberapa kali melewati jalan itu tetapi tetap saja aku merasa tidak terlalu lihai berkendara melewati tikungan hahaha emmmm... gaya sentripetal dan sentrifugal yang aku miliki tak dapat aku maksimalkan, ternyata aku juga tidak terlalu ahli memindahkan titik berat tubuh, sehingga aku merasa oleng :D

singkat cerita, singgahlah kami di sebuah masjid di daerah temanggung untuk menunaikan sholat dzuhur dan ashar (qasar; kan lagi perjalanan hihihi). selepasnya kami menuju alun-alun temanggung untuk melunasi hak-hak tubuh kami (red. makan) haha 
kami sempat kecewa, beberapa orang yang kami temui di alun-alun temanggung berlagak sinis dan tidak ramah sama sekali. aku yakin tidak semuanya, mungkin karena temanggung dingin dan kala itu sedang hujan hingga otot-otot disekitar wajah menjadi kaku, sampai-sampai untuk tersenyum pun susah. padahal, slogan kota temanggung adalah "Temanggung Bersenyum" :D

hujan benar-benar setia menemani perjalanan kami, rintik air hujan terasa merajam tubuh kami jutaan kali, dingin, dingin sekali kala itu hingga gemelatuk gigi ini tak jua dapat aku hindari. sekali lagi aku merasa takjub dan hanya bisa mengucap asma Alloh Yang Agung, kamu tahu? kami seperti berada didalam sebuah lukisan, dan...lukisan Alloh jauh lebih indah dari lukisan Leonardo de Caprio sekalipun. mengutip sebuah ayat al-quran "maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?". kita kecil.. benar-benar kecil bila dibandingkan dengan ciptaan-Nya yang lain..

akhirnya, kami memasuki daerah Banjarnegara, tepatnya di Sigaluh, dan tetap hujan..
tiba-tiba aku merasa aneh, aku merasa goyang (tidak dalam arti yang sesungguhnya), astaghfirulloh ternyata ban motorku bocor, paku menancap dengan sadis di ban roda belakangku..
aku dan ela (temanku) sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, aku sudah mencoba menekan tombol klakson untuk memberikan sinyal kepada teman-temanku yang ada didepan untuk berhenti karena yaa banku bocor, apa daya.. derasnya hujan dan bunyi gesekan roda dengan aspal sepertinya menyumpal telinga mereka hingga indra pendengaran mereka sudah tidak peka lagi..

entah mengapa, kami malah tertawa melihat kekonyolan kami. kami menyebut ini konyol, karena malamnya aku baru saja mengganti ban belakang motorku karena kena paku (juga).
tidak ada pilihan lain, aku -karena badanku lebih besar dari Ela- berjalan kaki sepanjang jalan mencari abang-abang ganteng tukang tambal cinta, ups! tukang tambal ban. dan ela, menaiki si supri (motorku) untuk mencari tukang tambal ban yang uka dalam keadaan hujan lebat. entahah.. aku kira aku  berjalan cukup jauh, dimulai dari Sigaluh dan berujung di Singomerto, jadi, aku seperti naik motor rasa jalan kaki. alhamdulillah kami menemukan abang tukang tambal ban, dan kamu tahu? kami berhenti di tukang tambal ban truk haha
aku ganti ban lagi deh :(

sembari menunggu supri yang sedang treatment, kami -aku dan ela- memesan segelas teh panas untuk sekedar mencairkan kami dari kebekuan yang merongrong tubuh selama perjalan ini..
tak lama, kami merasa ada beberapa orang bernasib sama dengan kami, ban bocor terkena paku hihihi kira-kira ada empat motor yang bernasib sama dengan si supri.. waah, ternyata banyak ranjau. kami tak banyak berspekulasi, hanya menyesalkan apabila itu benar terjadi karena ranjau, betapa Alloh telah mengatur semua rezeki kita dan takkan pernah kurang dari jatah yang telah Alloh tuliskan..

kami terpisah dari rombongan, kami tidak tahu Banjarnegara, ini adalah perjalanan pertama bagi Ela, dan perjalanan kedua bagiku, sebetulnya minggu lalu aku baru saja datang ke Banjarnegara untuk kegiatan kuliah, namun aku tidak menghafal jalan karena aku didalam bis bersama teman-temanku. kami hanya diberi petunjuk seadanya dan alhamdulillah akhirnya kami sampai di basecamp sementara kami di rumah kak Handri saat itu, daerah Mrica.

walau sudah didepan rumah kak Handri, ternyata Alloh masih menguji kesabaran dan kekuatan kami, aku dan Ela terjatuh dari motorketika hendak naik ke pelataran rumah kak Handri, jalan yang berlumut dan terguyur hujan menjadi momentum yang sangat tepat untuk menjatuhkan diri ini tidak berbatas dengan aspal. kaki kananku tertindih motor, kaki kiriku masuk ke dalam persneling, dan kamu tahu apa yang Ela lakukan? dia memelukku dengan sangat erat dan tertawa terbahak-bahak..
alhamdulillah kami selalu berbaik sangka kepada Alloh..

........................bersambung.................................



No comments:

Post a Comment