Tuesday, 12 September 2017

GURU TAK BOLEH KALAH GAUL!


Tidak dapat dipungkiri kemajuan teknologi saat ini semakin pesat bak laju roket yang mengudara ke angkasa, hampir semua hal dapat kita temukan hanya dengan mengakses internet bahkan kita dapat mengetahui kejadian di belahan bumi yang lain tanpa harus pergi ke sana.

Akhir-akhir ini rasanya internet telah merasuk ke semua lini kehidupan, tidak terkecuali dunia pendidikan. Internet dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mengakases berbagai macam sumber belajar yang up to date.

Mengapa harus up to date? Sebenarnya tidak ada dalil yang tegas menyatakan bahwa pencarian sumber pembelajaran melalui internet jauh lebih up to date dibandingkan mencari dengan cara konvensional. Namun, dewasa ini kita harus sadar bahwa menjadi seorang pendidik di periode sekarang menuntut kita untuk melek teknologi, tersebab peserta didik kita saat ini merupakan anak-anak generasi Z.

Teori Generasi yang dipopulerkan oleh Strauss dan Howe, mahasiswa Harvard University 1993 ini mengelompokkan kepribadian manusia-manusia berdasarkan periode lahir. Ada 4 generasi yang populer, yakni generasi baby boomers (lahir antara tahun 1940-1960) dengan ciri belum meleknya teknologi. Tradisional, dan konservatif. Kemudian yang kedua adalah generasi X (lahir antara tahun 1960-1980) dipengaruhi dengan latar belakang lahir saat konflik sedang tinggi-tingginya, generasi ini lebih suka memainkan risiko dibandingkan dengan generasi sebelumnya, pada segi teknologi mereka terbatas pada komunikasi interpersonal, misalnya email, texting, dan chatting. Selanjutnya adalah generasi Y atau yang sering disebut Si Milenial (lahir antara tahun 1980-1995), bagi generasi Y, lifestyle dan pekerjaan penting sekali untuk menjamin kestabilan hidup, generasi ini juga sudah cerdas menggunakan teknologi. Nah, yang terakhir adalah generasi Z, dimana peserta didik kita merupakan bagian daripadanya, generasi ini sudah sangat fasih menggunakan teknologi, multikasking, dan menyukai tantangan serta hal baru. Hal ini menandakan bahwa generasi Z memiliki peranan penting dalam memenuhi porsi peradaban. Contoh nyata generasi Z adalah berkembangnya profesi-profesi yang dulu kita anggap remeh temeh, tetapi ternyata mendatangkan uang dengan skala besar dan stabil, misalnya vlogger dan youtuber yang keduanya menggunakan teknologi internet.

Guru tidak boleh kalah gaul terutama dalam hal proses pembelajaran dan dituntut untuk menjadi kreatif dalam menggunakan internet. Selain untuk mencari sumber pembelajaran, internet bisa digunakan untuk menciptkan iklim pembelajaran yang menyenangkan, mengingat peserta didik kita saat ini adalah mereka yang ada pada kelompok generasi Z.

Ada banyak hal yang dapat kita lakukan dengan internet agar menjadi guru gaul, seperti menugaskan kepada siswa untuk mengirim pekerjaan rumah lewat email, membuat tugas drama Bahasa Indonesia yang di unggah ke platform seperti youtube dan sebagainya, melakukan e-learning, pembelajaran jarak jauh dan sebagianya.
Yang harus selalu diingat bahwa tugas kita adalah menyiapkan generasi setelah kita, salah satunya adalah bijak menggunakan teknologi internet sebagai salah satu kebutuhan yang mendekati primer.

“Menjadi pendidik di zaman teknologi sekarang ini memiliki tantangan tersendiri, yakni perkembangan informasi yang cepat dan lebih mudah diakses. Di satu sisi, teknologi akan membantu proses pembelajaran, akan tetapi di sisi lain, jika tidak bisa mengelola proses pembelajaran hanya akan mencipta murid-murid yang tanpa visi. Guru yang gokil harus mengajarkan muridnya untuk terlibat dalam pembicaraan secara langsung. Belajar saling mendengarkan, menghormati, dan memberikan diri dengan tulus. Jika tidak, para murid tersebut akan terjerumus dalam beban yang tak tertanggungkan pada masa depan. Murid alay, anak layangan yang mudah goyah dan labil, merupakan predikat bagi para murid yang kecanduan gadget. Guru gokil adalah guru yang menguasai teknologi informasi sekaligus mendayagunakannya bagi pembentukan karakter murid”, menurut J. Sumardianta dalam bukunya “Guru Gokil, Murid Unyu”.

Hijrah Maulidiah Afifah
Calon Guru Peradaban.


No comments:

Post a Comment