Karena Aku Tidak Tahu Lagi
aku kira sampai saat ini bukanlah waktu yang singkat untuk membuang semua kenangan yang sempat terekam.
nyatanya, untuk waktu yang tidak singkat sekalipun justru tak pernah benar benar hilang, sedetik pun, bahkan sepenggal waktu bersama yang sempat dirasakan juga tak bisa terlupa.
sampai-sampai aku telah terbiasa dan mulai menikmati kesakitan yang lagaknya kian meraja.
memangnya ada yang bisa aku lakukan ketika semuanya telah terlanjur dan bahkan tidak ada celah lagi untuk menyesal?
tidak ada, bukan? lalu, apa ada yang lebih baik selain menikmati rasa yang sesungguhnya pahit demi melihat manisnya bersama yang lain?
andai aku bisa jadi coklat panas yang berkubang di dalam cangkir cintamu, demi apa yang membuatmu bahagia, nikmati aku.. seteguk demi teguk.. walau pada akhirnya aku pula yang akan habis dan hanya menyisakan secangkir kosong bekas buihku, asalkan hilangku adalah bahagiamu. kamu tahu? sekompleks itu pun aku masih tetap bisa lakukan.
sayang, sepertinya kamu juga butuh teh hangat, ringan, tidak berat, namun tak kalah menenangkan..
aromanya lebih membahagiakan, meski aku tidak bisa menjamin bahwa nikotinnya mampu membuatmu merasa lebih baik..
aku rasa Tuhan tidak se-iseng itu untuk membuatku lebih kuat dari peristiwa yang telah terjadi, dengan membuatku terombang ambing dan seperti mencari jati diri yang telah hilang..
aku rasa, selalu ada penawar dari semua kesakitan, termasuk hati..
demi duka yang mungkin tidak sengaja tergores, satu pinta untuk tetap tinggal..
nyatanya aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan bila ternyata bahagia tak harus selalu bersama..
sulit adalah ketika aku memaksa.. dan terpaksa
memaksa untuk jatuh cinta dan terpaksa walau tak ada sedikit pun rasa.
mengapa seperti menjadi tugas besar ketika aku harus bisa menerima kenyataan bahwa aku kalah?
tidak, tidak.. aku tidak kalah..
hanya saja, aku tidak begitu yakin bahwa akhirnya memang aku yang dijatuhkan, hempas, dan puingku tak dapat juga untuk disatukan.
aku rasa Tuhan juga tidak se-jahil itu untuk membuatku merengek meminta seonggok penyelesaian problema yang pada akhirnya jua tak dapat ku pecahkan dengan analisis secara logis.. disini, naluri lebih dominan dan aku bekerja dengan insting dan segalanya tentang naluri.
No comments:
Post a Comment